EPIDURAL HEMATOMA

1

September 8, 2012 oleh dokterbujang

I. PENDAHULUAN

            Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak. Otak di tutupi oleh tulang tengkorak yang kaku dan keras. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang disebut dura. Fungsinya untuk melindungi otak, menutupi sinus-sinus vena, dan membentuk periosteum tabula interna. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang, pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura, ketika pembuluh darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak, keadaan inilah yang dikenal dengan sebutan epidural hematom (EDH).

EDH sebagai keadaan neurologis yang bersifat emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar, sehingga menimbulkan perdarahan. Venous epidural hematom berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural, bila terjadi perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi.

 

II. INSIDEN  DAN EPIDEMIOLOGI

Di Amerika Serikat, 2% dari kasus trauma kepala mengakibatkan EDH dan sekitar 10%  mengakibatkan koma. Secara Internasional frekuensi kejadian hematoma epidural hampir sama dengan angka kejadian di Amerika Serikat. Orang yang beresiko mengalami EDH adalah orang tua yang memiliki masalah berjalan dan sering jatuh.

60 % penderita EDH adalah berusia dibawah 20 tahun, dan jarang terjadi pada umur kurang dari 2 tahun dan di atas 60 tahun. Angka kematian meningkat pada pasien yang berusia kurang dari 5 tahun dan lebih dari 55 tahun. Lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan perbandingan 4:1.

Tipe- tipe :

  1. Epidural hematoma akut (58%) perdarahan dari arteri
  2. Subacute hematoma ( 31 % )
  3. Cronic hematoma ( 11%) perdarahan dari vena

 

III. ETIOLOGI

Hematoma Epidural dapat terjadi pada siapa saja  dan umur berapa saja, beberapa keadaan yang bisa menyebabkan EDH adalah misalnya benturan pada kepala pada kecelakaan motor. Hematoma epidural terjadi akibat trauma kepala, yang biasanya berhubungan dengan fraktur tulang tengkorak dan laserasi pembuluh darah.

 

IV. ANATOMI OTAK

            Otak di lindungi dari cedera oleh rambut, kulit dan tulang yang membungkusnya, tanpa perlindungan ini, otak yang lembut yang membuat kita seperti adanya, akan mudah sekali terkena cedera dan mengalami kerusakan. Selain itu, sekali neuron rusak, tidak dapat diperbaiki lagi. Cedera kepala dapat mengakibatkan malapetaka besar bagi seseorang. Sebagian masalah merupakan akibat langsung dari cedera kepala. Efek-efek ini harus dihindari dan ditemukan secepatnya dari tim medis untuk menghindari rangkaian kejadian yang menimbulkan gangguan mental dan fisik dan bahkan kematian.

                Tepat di atas tengkorak terletak galea aponeurotika, suatu jaringan fibrosa, padat dapat digerakkan dengan bebas, yang memebantu menyerap kekuatan trauma eksternal. Di antar kulit dan galea terdapat suatu lapisan lemak dan lapisan membrane dalam yang mngandung pembuluh-pembuluh besar. Bila robek pembuluh ini sukar mengadakan vasokontriksi dan dapat menyebabkan kehilangan darah yang berarti pada penderita dengan laserasi pada kulit kepala. Tepat di bawah galea terdapat ruang subaponeurotik yang mengandung vena emisaria dan diploika. Pembuluh-pembuluh ini dapat  membawa infeksi dari kulit kepala sampai jauh ke dalam tengkorak, yang jelas memperlihatkan betapa pentingnya pembersihan dan debridement kulit kepala yang seksama bila galea terkoyak.

Pada orang dewasa, tengkorak merupakan ruangan keras yang tidak memungkinkan perluasan intrakranial. Tulang sebenarnya terdiri dari dua dinding atau tabula yang dipisahkan oleh tulang berongga. Dinding luar disebut tabula eksterna, dan dinding bagian dalam disebut tabula interna. Struktur demikian memungkinkan suatu kekuatan dan isolasi yang lebih besar, dengan bobot yang lebih ringan . Tabula interna mengandung alur-alur yang berisikan arteria meningea anterior, media, dan posterior. Apabila fraktur tulang tengkorak menyebabkan tekoyaknya salah satu dari arteri-arteri ini, perdarahan arterial yang di akibatkannya, yang tertimbun dalam ruang epidural, dapat manimbulkan akibat yang fatal kecuali  bila ditemukan dan diobati dengan segera.

Pelindung lain yang melapisi otak adalah meninges. Ketiga lapisan meninges adalah duramater, arachnoid, dan piamater

  1. Duramater cranialis, lapisan luar yang tebal dan kuat. Terdiri atas dua lapisan:

–          Lapisan endosteal (periosteal) sebelah luar dibentuk oleh periosteum yang membungkus dalam calvaria

–          Lapisan meningeal sebelah dalam adalah suatu selaput fibrosa yang kuat yang berlanjut terus di foramen mágnum dengan duramater spinalis yang membungkus medulla spinalis

  1. Arachnoidea mater cranialis, lapisan antara yang menyerupai sarang laba-laba
  2. Piamater cranialis, lapis terdalam yang halus yang mengandung banyak pembuluh darah.

 

V. PATOFISIOLOGI

Pada EDH, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan durameter. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital.

Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale. Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar.

Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak ke arah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis.

Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mengurus formation retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata. Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini, menyebabkan kelemahan respon motorik kontralateral, refleks hiperaktif atau sangat cepat, dan tanda babinski positif.

Dengan makin membesarnya hematoma, maka seluruh isi otak akan terdorong ke arah yang berlawanan, menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.

Karena perdarahan ini berasal dari arteri, maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. Dalam waktu beberapa jam , penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat, kemudian kesadaran berangsur menurun. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan disebut interval lucid. Fenomena lucid interval terjadi karena cedera primer yang ringan pada Epidural hematom. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hampir selalu berat atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar.

Sumber perdarahan :

  •   Artery meningea ( lucid interval : 2 – 3 jam )
  •   Sinus duramatis
    •   Diploe (lubang yang mengisi kalvaria kranii) yang berisi a. diploica dan vena           diploica

Hematom epidural akibat perdarahan arteri meningea media,terletak antara duramater dan lamina interna tulang pelipis.

Os Temporale (1), Hematom Epidural (2), Duramater (3), Otak terdorong kesisi lain (4)

Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans dan infra tentorial. Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama, apalagi progresif memberat, harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti.

 

 

 

VI. GAMBARAN KLINIS

Gejala yang sangat menonjol ialah kesadaran menurun secara progresif. Pasien dengan kondisi seperti ini seringkali tampak memar di sekitar mata dan di belakang telinga. Sering juga tampak cairan yang keluar pada saluran hidung atau telinga. Pasien seperti ini harus diobservasi dengan teliti.

Setiap orang memiliki kumpulan gejala yang bermacam-macam akibat dari cedera kepala. Banyak gejala yang muncul bersaman pada saat terjadi cedera kepala.

Gejala yang sering tampak :

  • Penurunan kesadaran, bisa sampai koma
  • Bingung
  • Penglihatan kabur
  • Susahbicara
  • Nyeri kepala yang hebat
  • Keluar cairan darah dari hidung atau telinga
  • Nampak luka yang dalam atau goresan pada kulit kepala.
  • Mual
  • Pusing
  • Berkeringat
  • Pucat
  • Pupil anisokor, yaitu pupil ipsilateral menjadi melebar.

Pada tahap kesadaran sebelum stupor atau koma, bisa dijumpai hemiparese atau serangan epilepsi fokal. Pada perjalananya, pelebaran pupil akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya pada permulaan masih positif menjadi negatif. Inilah tanda sudah terjadi herniasi tentorial. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardi.  Pada tahap akhir, kesadaran menurun sampai koma dalam, pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. Gejala-gejala respirasi yang bisa timbul berikutnya, mencerminkan adanya disfungsi rostrocaudal batang otak.

Jika EDH di sertai dengan cedera otak seperti memar otak, interval bebas tidak akan terlihat, sedangkan gejala dan tanda lainnya menjadi kabur.

 

VII. GAMBARAN RADIOLOGI

Dengan CT-scan dan MRI, perdarahan intrakranial akibat trauma kepala lebih mudah dikenali.

Computed Tomography (CT-Scan)

Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi, volume, efek, dan potensi cedera intracranial lainnya. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral), berbentuk bikonveks, paling sering di daerah temporoparietal. Densitas darah yang homogen (hiperdens), berbatas tegas, midline terdorong ke sisi kontralateral. Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma, Densitas yang tinggi pada stage yang akut ( 60 – 90 HU), ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah.

Gambar 1. Gambaran CT-Scan  Hematoma Epidural di Lobus Fronal kanan.

Gambar 2. Gambaran CT-Scan fraktur tulang frontal kanan di anterior sutura coronalis

Magnetic Resonance Imaging (MRI)

MRI akan menggambarkanmassahiperintens bikonveks yang menggeser posisi duramater, berada diantara tulang tengkorak dan duramater. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi. MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis.

Gambar 3. Gambaran MRI Hematoma Epidural.

 

VIII. DIAGNOSIS BANDING

  1. 1.      Hematoma subdural

Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara duramater dan arachnoid. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat. Bisa disebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai tulang  sehingga merusak a. kortikalis. Biasanya di sertai dengan perdarahan jaringan otak. Gambaran CT-Scan hematoma subdural, tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit.

Hematoma Subdural Akut

  1. 2.      Hematoma Subarachnoid

Perdarahan subarakhnoid terjadi karena robeknya pembuluh-pembuluh darah di dalamnya.

Kepala panah menunjukkan hematoma subarachnoid, panah hitam menunjukkan hematoma subdural dan panah putih menunjukkan pergeseran garis tengah ke kanan

 

IX. PENATALAKSANAAN

Penanganan darurat :

  • Dekompresi dengan trepanasi sederhana
  • Kraniotomi untuk mengevakuasi hematom

 

Terapi medikamentosa

1. Memperbaiki/mempertahankan fungsi vital

Usahakan agar jalan nafas selalu babas, bersihkan lendir dan darah yang dapat menghalangi aliran udara pemafasan. Bila perlu dipasang pipa naso/orofaringeal dan pemberian oksigen. Infus dipasang terutama untuk membuka jalur intravena : guna-kan cairan NaC10,9% atau Dextrose in saline.

2. Mengurangi edema otak

Beberapa cara dapat dicoba untuk mengurangi edema otak:

a.Hiperventilasi.

b.Cairan hiperosmoler.

c.Kortikosteroid.

d.Barbiturat.

a.Hiperventilasi

Bertujuan untuk menurunkan paO2 darah sehingga mencegah vasodilatasi pembuluh darah. Selain itu suplai oksigen yang terjaga dapat membantu menekan metabolisme anaerob, sehingga dapat mengurangi kemungkinan asidosis. Bila dapat diperiksa, paO2 dipertahankan > 100 mmHg dan paCO2 diantara 25­30 mmHg.

b.Cairan hiperosmoler

Umumnya digunakan cairan Manitol 10­15% per infus untuk “menarik” air dari ruang intersel ke dalam ruang intra-vaskular untuk kemudian dikeluarkan melalui diuresis. Untuk memperoleh efek yang dikehendaki, manitol hams diberikan dalam dosis yang cukup dalam waktu singkat, umumnya diberikan : 0,5­1 gram/kg BB dalam 10­30 menit.

Cara ini berguna pada kasus-kasus yang menunggu tindak-an bedah. Pada kasus biasa, harus dipikirkan kemungkinan efek rebound; mungkin dapat dicoba diberikan kembali (diulang) setelah beberapa jam atau keesokan harinya.

c.Kortikosteroid

Penggunaan kortikosteroid telah diperdebatkan manfaatnya sejak beberapa waktu yang lalu. Pendapat akhir-akhir ini cenderung menyatakan bahwa kortikosteroid tidak/kurang ber-manfaat pada kasus cedera kepala. Penggunaannya berdasarkan pada asumsi bahwa obat ini menstabilkan sawar darah otak.

Dosis parenteral yang pernah dicoba juga bervariasi :

Dexametason pernah dicoba dengan dosis sampai 100 mg bolus yang diikuti dengan 4 dd 4 mg. Selain itu juga Metilprednisolon pernah digunakan dengan dosis 6 dd 1­5 mg dan Triamsinolon dengan dosis 6 dd 10 mg.

d.Barbiturat

Digunakan untuk mem”bius” pasien sehingga metabolisme otak dapat ditekan serendah mungkin, akibatnya kebutuhan oksigen juga akan menurun; karena kebutuhan yang rendah, otak relatif lebih terlindung dari kemungkinan kemsakan akibat hipoksi, walaupun suplai oksigen berkurang. Cara ini hanya dapat digunakan dengan pengawasan yang ketat.

e.Cara lain

Pala 24­48 jam pertama, pemberian cairan dibatasi sampai 1500-­2000 ml/24 jam agar tidak memperberat edema jaringan. Ada laporan yang menyatakan bahwa posisi tidur dengan kepala (dan leher) yang diangkat 30° akan menurunkan tekanan intrakranial.

Posisi tidur yang dianjurkan, terutama pada pasien yang berbaring lama, ialah:

kepala dan leher diangkat 30°. sendi lutut diganjal, membentuk sudut 150°. telapak kaki diganjal, membentuk sudut 90° dengan tungkai bawah

 

 

 

3. Obat-obat Neurotropik

Dewasa ini banyak obat yang dikatakan dapat membantu mengatasi kesulitan/gangguan metabolisme otak, termasuk pada keadaan koma.

a. Piritinol

Piritinol merupakan senyawa mirip piridoksin (vitamin B6) yang dikatakan mengaktivasi metabolisme otak dan memperbaiki struktur serta fungsi membran sel. Pada fase akut diberikan dalam dosis 800-4000 mg/hari lewat infus. Tidak dianjurkan pemberian intravena karena sifat-nya asam sehingga mengiritasi vena.

b.Piracetam

Piracetam merupakan senyawa mirip GABA – suatu neurotransmitter penting di otak. Diberikan dalam dosis 4-12 gram/ hari intravena.

c.Citicholine

Disebut sebagai koenzim pembentukan lecithin di otak. Lecithin sendiri diperlukan untuk sintesis membran sel dan neurotransmitter di dalam otak. Diberikan dalam dosis 10Q-500 mg/hari intravena.

 

4. Hal-hal lain

Perawatan luka dan pencegahan dekubitus harus mulai di-perhatikan sejak dini; tidak jarang pasien trauma kepala juga menderita luka lecet/luka robek di bagian tubuh lainnya. Anti-biotika diberikan bila terdapat luka terbuka yang luas, trauma tembus kepala, fraktur tengkorak yang antara lain dapat me-nyebabkan liquorrhoe. Luka lecet dan jahitan kulit hanya memerlukan perawatan lokal.

Hemostatik tidak digunakan secara rutin; pasien trauma kepala umumnya sehat dengan fungsi pembekuan normal. Per- darahan intrakranial tidak bisa diatasi hanya dengan hemostatik. Antikonvulsan diberikan bila pasien mengalami kejang, atau pada trauma tembus kepala dan fraktur impresi; preparat parenteral yang ada ialah fenitoin, dapat diberikan dengan dosis awa1250 mg intravena dalam waktu 10 menit diikuti dengan 250-500 mg fenitoin per infus selama 4 jam. Setelah itu diberi- kan 3 dd 100 mg/hari per oral atau intravena. Diazepam 10 mg iv diberikan bila terjadi kejang. Phenobarbital tidak dianjurkan ka-rena efek sampingnya berupa penurunan kesadaran dan depresi pernapasan.

 

Terapi Operatif

            Operasi di lakukan bila terdapat :

  • Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml)
  • Keadaan pasien memburuk
  • Pendorongan garis tengah > 5 mm
  • fraktur tengkorak terbuka, dan fraktur tengkorak depres dengan kedalaman >1 cm
  • EDH dan SDH ketebalan lebih dari 5 mm dan pergeseran garis tengah dengan GCS 8 atau kurang
  • Tanda-tanda lokal dan peningkatan TIK > 25 mmHg

Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional saving. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang.

Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume :

  • > 25 cc à desak ruang supra tentorial
  • > 10 cc à desak ruang infratentorial
  • > 5 cc à desak ruang thalamus

Sedangkan indikasi evakuasi life saving  adalah efek masa yang signifikan :

  • Penurunan klinis
  • Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.
  • Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif.

 

Perawatan Pascabedah

Monitor kondisi umum dan neurologis pasien dilakukan seperti biasanya. Jahitan dibuka pada hari ke 5-7. Tindakan pemasangan fragmen tulang atau

kranioplasti dianjurkan dilakukan setelah 6-8 minggu kemudian. Perawatan luka dan pencegahan dekubitus pada pasien post operasi harus mulai diperhatikan sejak dini.

CT scan kontrol diperlukan apabila post operasi kesadaran tidak membaik dan untuk menilai apakah masih terjadi hematom lainnya yang timbul kemudian.

 

Rehabilitasi pada perdarahan otak

Hal-hal yang timbul akibat perdarahan otak  menyebabkan gangguan  fungsi dan menjadi masalah pokok pada  rehabilitasi  medik, adalah : lokomotor, ketrampilan tangan, gangguan  bicara, gangguan koordinasi, gangguan sensorik  dan kejiwaan). Untuk menangani banyak masalah tersebut perlu kerja sama tim yang terpadu.

1.   Gangguan Lokomotor

Penyebab gangguan lokomotor yang paling umum adalah hemiplegia motorik akibat gangguan pembuluh darah atau para-plegia dan quadriplegia akibat penekanan pada sumsum  tulang belakang atau penyakit  demyelinasi; masalah tersebut akan memerlukan fisioterapi tergantung  dari luasnya lesi saraf ter-sebut apakah statis, memburuk atau membaik.

Pertimbangan utama adalah mobilisasi dan ketergantungan penderita; anggota gerak yang sehat harus dipelihara kekuatan-nya dan anggota yang lumpuh  digerakkan  secara pasif untuk memelihara gerakan sendi yang normal jangan sampai  kaku. Bila ada spastisitas, harus diusahakan sedemikian rupa sehingga fungsi untuk berjalan bisa terpenuhi; baik dengan cold pack atau hot pack  maupun  dengan  vibrasi atau menggunakan refleks hambatan. Kadang-kadang diperlukan suntikan lokal langsung pada saraf dengan phenol atau alkohol yang bermanfaat untuk beberapa minggu sampai beberapa bulan,  sehingga penderita telah dapat diperbaiki mobilitasnya.

2.  Ketrampilan tangan

Sistim piramidalis sangat mempengaruhi  kemahiran ketrampilan tangan;  walaupun  proses penyakit telah sembuh namun dalam hal ini selalu ada defisit. Walaupun kekuatan otot telah pulih, gerakan sendi telah balk, pengendalian anggota gerak telah dikuasai namun ketrampilan tangan ini masih bagian yang penting dalam proses rehabilitasi. Sebagian dapat dikerjakan fisioterapist tetapi lebih terperinci  lagi oleh okupasi  terapist. Ketrampilan dapat dipulihkan melalui latihan terapi okupasi seperti menulis, mengetik, memasukkan kancing baju, bertukang dan menjahit.  Akhirnya  kemampuan yang  semakin rumit se-hubungan dengan  kebutuhan penderita dalam pekerjaannya, memerlukan latihan yang lebih rumit pula.

3.   Gangguan bicara

Gangguan berkomunikasi  merupakan cacat penting yang bisa disandang oleh penderita. Cacat demikian  memerlukan evaluasi yang  teliti dan penanganan khusus. Berbagai klasifikasi gangguan berkomunikasi, diantaranya yang mudah dan praktis adalah klasifikasi Sehuell :

Gol. 1 :  Afasia sederhana.

Terdapat pengurangan semua bahasa, tidak ada gangguan sensorik dan motorik, ada disarthria.

Gol. 2 :  Serupa dengan gol.  1 ditambah  dengan  gangguan visual dan terdapat gangguan diskriminasi, pengenal-an dan pengungkapan simbol visual.

Gol. 3 :  Afasia  disertai gangguan  proses pendengaran dan sensorik-motorik.

Gol. 4 :  Campuran gangguan  pendengaran, penglihatan dan motorik  dan  tanda-tanda kerusakan otak yang  me-nyeluruh.

Gol. 5 :  Afasia, ireversibel dan  hilangnya semua modalitas fungsi berbahasa. Dari klasifikasi  dapat diduga  prognosisnya; gol. 1 afasia sederhana adalah baik sedang gol.  5 afasia ireversibel adalah jelek. Apapun golongan  penderita ada  kemungkinan memberi bantuan komunikasi yang sesuai oleh speech therapist.

4.   Gangguan kordinasi

Gangguan  kordinasi timbul akibat kerusakan pada serebellum. Lesi serebellum, dan campuran lesi serebellum dan piramidal mengakibatkan gangguan koordinasi dan kurangnya gerak trampil. Suatu  hal yang perlu diperhatikan apakah lesi bersifat tetap, sembuh atau memburuk dan hubungannya dengan cacatnya apakah permanen atau sementara.

Gangguan kordinasi anggota gerak atas dilatih dengan latihan sederhana dimulai dari gerakan  jari-jari sendiri-sendiri, ditingkatkan dengan antar jari, berarti sudah ada kordinasi tangan dan mata. Sangat menolong  adalah rekreasi permainan benda kecil atau kerajinan tangan.

Gangguan kordinasi anggota gerak bawah, tidak perlu di-paksakan untuk  latihan jalan  (walking gait);  cukup dengan memulai yang sederhana menempatkan  kaki dalam berbagai posisi secara  statik, dilanjutkan dengan kordinasi  pergerakan sendi. Sebelum berdiri ada baiknya  posisi tegak  dilatih padatilting table dulu,  latihan keseimbangan berdiri di  lantai, baru latihan jalan dengan bantuan terapis. Selanjutnya dapat dilatih dengan alat bantu seperti kruk, tripod atau  tongkat untuk ber-jalan sendiri.

Gangguan kordinasi karena  defek pada ekstrapiramidal lebih sulit diatasi terutama kalau bilateral. Selain kekuatan yang menghambat  untuk bergerak, ada kegagalan mulai bergerak walaupun penderita sudah mengerti instruksi dan penerangan. Kadang-kadang bisa ditolong dengan bantuan visual dan pendengaran; pasien dengan sindrom Parkinson lebih sulit berjalan pada jalan yang rata daripada berlekuk-lekuk karena rangsangan sensorik kerikil akan memudahkan gerakan.  

5.   Gangguan sensorik

Selain pendengaran, mengecap, penciuman dan penglihatan, perasaan merupakan  modalitas  yang penting.  Gangguan sensorik ini dapat dibagi 3 :

a.  Perasaan dalam (proprioseptif).

b.  Perasaan superfisial (eksteroseptif).

c.  Stereognosis.

a. Perasaan dalam (proprioseptif) :

Memberi  perasaan posisi dan  pergerakan badan, reseptor terletak pada jaringan tubuh : otot, tendon, periost dan sendi juga memberi informasi tegangan otot dalam setiap gerakan. Gangguan proprioseptif akan mengganggu hubungan sensorik motorik.

 

b. Perasaan superfisial (eksterosepuf) :

Reseptor terletak pada kulit sangat penting untuk perabaan, tekanan, panas dingin dan nyeri. Gangguan sensorik superfisial ini akan menyebabkan mudah cederapada kulit tanpa disadari.

 

c. Stereognosis

Perasaan ini adalah  kemampuan mengenal  benda tiga  dimensi dengan  meraba, tampaknya merupakan  kombinasi perasaan dalam dan superfisial.

Gangguan stereognosis ini  menyebabkan astereognosis atau hilangnya perasaan taktil-kinestetik.

Test yang penting secara praktis adalah :

a.  Perasaan superfisial

b.  Suhu

c.  Nyeri

d.  Perasaan dafam

e.  Pembedaan ringan-berat

f.  Stereognosis

g.  Bentuk persepsi dsb.

Untuk mengatasi gangguan sensorik ini perlu latihan berulang-ulang setiap rangsangan  untuk memulihkan fungsi anggota gerak misalnya untuk berdiri,  jalan, ADL memasang kancing baju, sikat gigi, makan dengan garpu dan  sebagainya. Variasi rangsangan  bisa diberikan melalui permainan  dengan bahan berlainan misalnya balok-balok kayu, plastik dan tanah fiat. Latihan secara bertahap dari ringan sampai berat sesuai dengan kemampuan yang telah dicapai.

6.   Gangguan kejiwaan

Gangguan kejiwaan yang timbul akan sangat menghambat usaha-usaha rehabilitasi pemulihan fungsi-fungsi tubuh. Akibat kerusakan  otak bisa timbul hilangnya intelek, perubahan kepribadian dan jadi agresif. Perlu pemeriksaan dan evaluasi oleh psikiater. Depresi, cemas, kelelahan  berlebihan,  konsentrasi pikiran yang rendah dan kurangnya ingatan bisa karena defisit neurologik tetapi belum tentu karena kerusakan otak. Gambaran gangguan jiwa  dapat  diobati  sehingga penderita dapat diubah keadaannya, program rehabilitasi dapat dimulai.

 

Kerja sama Tim Rehabilitasi

Penanganan paripurna cacat akibat tumor otak memerlukan kerjasama multi disiplin ilmu dan kordinasi antar disiplin yang selaras dan serasi,  kesemuanya harus  berorientasi kepada pe-mulihan fungsi dan menempatkan sebagai pusat perhatian. Pengikutsertaan keluarga merupakan hal yang penting.  

1.    Peranan keluarga adalah:

a.  Partisipasi dalam proses rehabilitasi, pengamatan aktivitas penderita dan membantunya melakukan gerakan  tertentu yang tak bisa dilakukan sendiri oleh penderita.

b.  Partisipasi aktif dalam tim rehabilitasi.

c.  Keikutsettaan dalam  membuat  keputusan dalam  program rehabilitasi.

d.  Mendapat pengertian akibat cacat fisik dan mental.

e.  Melanjutkan program rehabilitasi di rumah.

 

2.    Dokter ahli rehabilitasi medik (Fisiatris)

Dokter spesialis rehabilitasi berperan sebagai kapten tim : Menentukan diagnosis, evaluasi dan pengobatan penderita. Tujuan utama adalah mengurangi sakit, dan memulihkan  fungsi fisik, psikologik, sosial dan vokasional.

Peran fisiatris pada tim rehabilitasi, sebagai supervisi interaksi anggota tim pada semua fase dalam proses rehabilitasi.

Termasuk diantaranya adalah :

a)  Interpretasi masalah medik dan pembedahan.

b) Membantū semua anggota tim rehabilitasi menemukan jalan penyelesaian masalah yang timbul dalam pengobatan penderita.

c)  Mendorong cara inovatif dan riset.

d) Mengambil keputusan apabila tim  tidak bisa menentukan secara konsensus untuk menentukan tindakan.

Fisiatris merupakan penghubung  dengan spesialis lain yang menangani tumor otak.

3.  Perawat Rehabilitasi

Perawat  merupakan anggota tim yang paling dekat dan banyak waktunya dengan pasien. Usahanya adalah membantu penderita dalam pemulihan fungsi, yang berguna, produktif dan mandiri. Perawat mengevaluasi pasien akan kebutuhan  sehari-hari, memantau keterbatasan  dan cacatnya,  mengintegrasikan prinsip terapi dengan kegiatan keseharian penderita di ruangan. Juga membantu penderita dalam hal rawatan saluran cerna dan kemih. Komunikasi  perawat dengan anggota tim  yang  lain berpusat pada keadaan medik penderita dan aplikasi praktis apa yang dapat dilakukan penderita.

4.  Fisioterapis

Setelah masalah pasien dinilai, fisioterapis bertanggung jawab untuk  evaluasi, pengembangan dan supervisi  program latihan terapi.

Program latihan akan berhasil bila :

a) Penjelasan yang baik  dan  demonstrasi yang mudah  dimengerti dan dilakukan.

b)  Supervisi latihan dan koreksi bila salah.

c)  Pertimbangan toleransi nyeri dan kelelahan.

d)  Penjadwalan dan diselingi penilaian ulang.

e)  Pasien memerlukan latihan tersendiri dan perhatian khusus kasus demi kasus.

f) Adakalanya perlu  latihan berkelompok dalam melakukan gerakan secara bersama-sama.

g)  Melanjutkan program  latihan di rumah  dan  memberi pengertian kepada keluarga.

Komunikasi fisioterapis dengan anggota tim lain terutama mengenai kemampuan fisik atau kognitif dan keterbatasan dalam melakukan latihan.

 

 5.  Okupasi terapis

Peran okupasi terapis adalah memulihkan penderita hingga mandiri dan hidup normal dan produktif. Evaluasi penampilan penderita baik ADL sederhana dan rumit berpakaian, berdandan, kordinasi motorik halus, persepsi  visuospasial dan assesmen lingkungan.

Okupasi terapis harus merencanakan penatalaksanaan berupa :

a) Evaluasi dan pemulihan kemampuan penderita dalam hubungannya dengan ADL dan pekerjaan.

b)  Memanfaatkan fungsi yang tersisa dengan alat bantu.

c)  Memperbaiki  pengertian akan cacat yang  disandang  dan fungsi psiko sosial sebagai bagian dari kemanusiaan.

 6.   Speech therapist (Bina Wicara)

Gangguan  komunikasi karena tumor  otak ditangani  oleh speech therapist  yang terlatih mengatasi gangguan  berbahasa, persepsi, evaluasi dan pembentukan bahasa. Apabila suara be-lum ada  maka  modalitas berkomunikasi harus  dilatih seperti memakai tulisan, lambang  jari atau cara  lain yang bisa di-mengerti.

Speech therapist  juga melatih  penderita yang mengalami gangguan menelan. Komunikasi bina wicara dengan anggota tim rehabilitasi khususnya memberi informasi tentang kemampuan penderita berkomunikasi berbahasa atau altematif lain.

 

 7.   Ortotik – Prostetik

Setelah ada pengarahan fisiatris tentang evaluasi penderita, pilihan alat ortosa atau protesa yang cocok harus mempertimbangkan anatomi, fisiologi dan aspek patologi juga harus melihat faktor-faktor keindahan gerak, terhindar dari nyeri, pekerjaan, sikap psikologik dan sosio ekonomi penderita. Harus diusahakan sedemikian rupa bila memakai ortosa dan protesa, penderita mendekati kehidupan biasa dan produktif.

8.  Psikologi

Penderita tumor  otak sebelum dan sesudah pengobatan mungkin akan mengalami dalam situasi baru terutama bila ada defisit fungsi. Dalam hal ini psikolog sebagai anggota tim rehabilitasi berperan untuk  menilai dan  mengevaluasi  fungsi perasaan dan kognitif penderita; termasuk di dalamnya adalah :

a)  Efek  psikologik  dan intelek  yang terganggu akibat tumor otak.

b)  Fungsi sebelum menderita dan sekarang.

c)  Akibat kronik tumor otak.

d)  Kemampuan penderita menerima keadaannya.

e)  Persepsi penderita tentang  keadaannya dan pandangan orang lain terhadap dia.

f)  Peranan lingkungan.

Sikap emosi dan mental sangat menentukan  keberhasilan proses rehabilitasi. Rata-rata 50% pada orang dewasa dan lebih tinggi lagi pada anak-anak.

Psikolog juga  mengamati secara obyektif keberhasilan interaksi antar tim dan  bertanggung  jawab akan  pemberian pengertian dan mengkomunikasikan manifestasi psikologik dan perilaku penderita akibat penyakitnya.

 

 9.   Pekerja Sosial Medik

Anggota tim rehabilitasi yang masih jarang diIndonesiaadalah pekerja sosial medik yang mempunyai peran penting. Dia menyiapkan laporan tentang penderita dan keluarga, menentukan diagnosis sosial dan memberi informasi yang diperlukan tim. Diagnosis sosial  termasuk kemampuan penderita menerima defisit fungsinya dan penerimaan penderita terhadap program rehabilitasi.

Pelayanan pekerja sosial  medik  yang diberikan  kepada penderita dan  keluarga adalah : Penerangan tentang cacatnya, kehidupan sex, bantuan  keuangan  dan badan sosial,  situasi tempat tinggal yang hams sesuai  pada keadaan penderita, halangan bangunan yang mesti diubah, kamar mandi yang cocok dan sebagainya.

 

 10.  Ahli Gizi

Gizi yang cukup  dan  bermutu adalah mutlak untuk  penyembuhan penderita. Tujuan ahli gizi  adalah melakukan evaluasi keadaan gizi penderita,  menghitung  gizi yang diperlukan, dan kemampuan mencukupi kebutuhan gizinya, dan merencanakan makanan  khusus  standar gizi yang diperlukan hams  mempertimbangkan faktor-faktor keadaan tubuh  pen-derita. Data laboratorium dan biokimia, pengamatan klinis dan evaluasi gizi seleksi makanan harus mempertimbangkan selera penderita, budaya makan selain kemampuan penderita menelan, sering diperlukan  kerjasama  speech therapist,  okupasi terapis dan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan gizi.

11.  Anggota tim rehabilitasi yang lain

Tim rehabilitasi  masih bisa bertambah berdasarkan  ke-butuhan penderita uthtuk mencapai pemulihan fungsi. Pada saat rehabilitasi medik telah selesai, akan  dilanjutkan dengan  program rehabilitasi vokasional dan sosial yang pada  umumnya dilakukan di luar rumah sakit.

 

Hasil

Hasil pelaksanaan program rehabilitasi akhirnya akan dapat menggolongkan penderita sesuai dengan fungsi yang dapat di-pulihkan atau fungsi yang masih tersisa.

a)    Penderita sembuh tanpa cacat dapat kembali ke pekerjaan semula.

b)  Penderita sembuh  dengan cacat dan fungsi yang tersisa dapat melakukan pekerjaan ringan.

c)  Penderita sembuh dengan cacat memerlukan bantuan dari keluarga untuk kehidupan sehari-hari.

d)  Penderita akan mengalami kemunduran dari waktu ke waktu dan selalu memerlukan bantuan tim medik.

X. PROGNOSIS

            Prognosis tergantung pada :

  • Lokasinya ( infratentorial lebih jelek )
  • Besarnya
  • Kesadaran saat masuk kamar operasi.

Jika ditangani dengan cepat, prognosis hematoma epidural biasanya baik, karena kerusakan otak secara menyeluruh dapat dibatasi. Angka kematian berkisar antara 7-15% dan kecacatan pada 5-10% kasus. Prognosis sangat buruk pada pasien yang mengalami koma sebelum operasi.

 

One thought on “EPIDURAL HEMATOMA

  1. Evie mengatakan:

    Anak saya post EDH, ketika operasi umur 5thn, dan skrg sudah berumur 7thn, yg mau sy tanyakan adlh ketika habis berolahraga di sekolah, sering merasa lelah dan langsung demam sampai 3hr, apakah masih dalam kategori normal dok ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
J S M S S R K
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 108,982 Tampilan
%d blogger menyukai ini: