BRONKIEKTASIS

Tinggalkan komentar

September 8, 2012 oleh dokterbujang

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Definisi

Bronkientasis adalah pelebaran atau dilatasi bronkus local dan permanen sebagai akibat kerusakan struktur dinding. Artinya dilatasi abnormal proksimal dari bronkus ukuran medium (diameter > 2mm) disebabkan oleh destruksi otot dan komponen elastis dinding bronkus. Atau pelebaran bronkus yang disertai kerusakan dinding bronkus yang bersifat kronik dan menetap.

Secara khusus, bronkiektasis menyebabkan pembesaran pada bronkus yang berukuran sedang, tetapi bronkus berukuran kecil yang berada dibawahnya sering membentuk jaringan parut dan menyempit. Kadang-kadang bronkiektasis terjadi pada bronkus yang lebih besar, seperti yang terjadi pada aspergilosis bronkopulmoner alergika (suatu keadaan yang disebabkan oleh adanya respon imunologis terhadap jamur Aspergillus

Bronkiektasis bukan merupakan penyakit tunggal, dapat terjadi melalui berbagai cara dan merupakan akibat dari beberapa keadaan yang mengenai dinding bronkial, baik secara langsung maupun tidak, yang mengganggu sistem pertahanannya. Keadaan ini mungkin menyebar luas, atau mungkin muncul di satu atau dua tempat.

  1. Prevalensi

Data di RSUD Dr. Soetomo Surabaya bronkiektasis merupakan kelainan nomer tujuh terbanyak dari penderita rawat inap selama periode 1979-1985 dan nomer enam pada tahun 1987 serta menurun kembali di nomer tujuh pada tahun 1990. bronkiektasis didapatkan pada 221 dari 11.081 (1,01 %) penderita.

Insidens bronkiektasis cenderung menurun dengan adanya kemajuan pengobatan antibiotika. Akan tetapi perlu diingat bahwa insidens ini juga dipenggaruhi oleh kebiasaan merokok, polusi udara dan kelinan kogenital.

  1. Etiologi

Bronkiektasis bisa disebabkan oleh:

  1. Infeksi pernapasan
  • o Campak
    • § Pertusis
    • § Infeksi adenovirus
    • § Infeksi bakteri contohnya Klebsiella, Staphylococcus atau Pseudomonas br>- Influenza
    • § Tuberkulosa
    • § Infeksi jamur
    • § Infeksi mikoplasma
  1. Penyumbatan bronkus
  2. Cedera penghirupan
  3. Keadaan genetik
  4. Kelainan imunologik
  5. Keadaan lain
    1. Faktor Radang dan Nekrosis
  • § Benda asing yang terisap
  • § Pembesaran kelenjar getah bening
  • § Tumor paru
  • § Sumbatan oleh lendir
  • § Cedera karena asap, gas atau partikel beracun
  • § Menghirup getah lambung dan partikel makanan
  • § Fibrosis kistik
  • § Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener
  • § Kekurangan alfa-1-antitripsin
  • § Sindroma kekurangan imunoglobulin
  • § Disfungsi sel darah putih
  • § Kekurangan koplemen
  • § Kelainan autoimun atau hiperimun tertentu seperti rematoid artritis, kolitis ulserativa
  • § Penyalahgunaan obat (misalnya heroin)
  • § Infeksi HIV
  • § Sindroma Young (azoospermia obstruktif)
  • § Sindroma Marfan.
  1. Patogenesis

Radang pada saluran pernafasan menyebabkan silia dari sel-sel epitel bronkus tidak berfungsi. Jaringan juga rusak sebagian oleh tanggapan host neutrophilic protease, sitokin inflamasi nitrat oksida, dan oksigen radikal. Epitel kolumner mengalami degenerasi dan diganti menjadi epitel torak. Selanjutnya elemen kartilago muskularis mengalami nekrosis dan jaringan elastis yang terdapat disekitarnya mengalami kerusakan sehingga berakibat dinding bronkus menjadi lemah, melebar tak teratur dan permanent. Hasilnya adalah bronkial abnormal, dilatasi bronkial dengan peradangan transmural. Perubahan anatomi dinding bronkial mengakibatkan pembersihan sekresi saluran pernafasan melemah. Gangguan bersihan sekresi menyebabkan kolonisasi dan infeksi dengan organisme patogen dan ganguan dahak sekret purulen, hasilnya adalah kerusakan bronkus berlanjut dan lingkaran setan kerusakan bronkus, dilatsi, gangauna pembersihan sekret, infeksi berulang dan kerusakan bronkus lebih diffuse. Bila ulserasi mengenai pembuluh darah serta terbentuk anastomosis antara vena bronkialis dengan vena pulmonaris (right to left shunt) dengan akibat timbul hipoksemia kronis dan berahir dengan kor pulmonal kronis.

  1. Faktor Mekanik

–          Distensi mekanis sebagai akibat dinding bronkus yang lemah, sekret yang menumpuk dalam bronkus, adanya tumor atau pembesaran kelenjar limfe

–          Peningkatan tekanan intra brokial distal dari penyempitan akibat batuk

–          Penarikan dinding bronkus oleh karena fibrosis jaringan paru sebagai akibat timbulnya perlekatan lokal yang permanen dari dinding bronkus.

Pelebaran bronkus dapat berbentuk :

–          Sirkuler

–          Turbuler

–          Varikosis

  1. Gambaran Klinis
  2. Keluhan

Gejala klinik timbul sebagai akibat gangguan fungsi silia dan adanya stasis secret sehingga memungkinkan  secret terkumpul di segmen yang mengalami dilatsi. Dugaan adanya bronkiektasis sebagaian besar ditemukan secara tidak sengaja pada saat dilakukan pemeriksaan radiologi masal, sebab gejala klinik baru timbul bila penderita mengalami infeksi sekunder.

Penderita bronkiektasis mengeluh batuk produktif yang sering bersifat menahun, disertai dahak purulen dalam jumlah banyak. Apabila ditampung dalam gelas transparan dan didiamkan akan tampak tiga lapisan dari atas ke bawah yaitu : buih, cairan jernih/saliva, dan endapan pus.

Ekspektorasi timbul dengan perubahan posisi tubuh yang memungkinkan pengaliran sputum dari segmen bronkiektasis, misalnya waktu bangun tidur, miring ke kiri atau ke kanan. Sesak nafas timbul apabila ada stagnasi sputum yang luas pada saluran nafas dan keradangan akut.

Batuk darah timbul pada 50 % penderita, sering perdarahan cukup banyak tetapi jarang fatal. Kebanyakan batuk darah pada anak disebabkan oleh bronkiektasis.

Penderita tampak kurus, astenia dan aneroksia. Panas badan timbul akibat infeksi sekunder.

  1. Temuan Fisik

Penderita tampak kurang gizi, anemi, dispneu, kadang-kadang sianosis dan sering didapatkan jari tabuh pada tangan dan kaki. Ronki basah presisten pada lobus inferior paru seringkali merupakan kelainan yang amat penting. Gejala tersebut lebih jelas terdengar bila pemeriksaan dilakukan sebelum dan sesudah posisi drainase postural dan penderita disuruh batuk.

  1. Laboratorium

Tidak khas, Hb dapat rendah (anemia), dapt pula tinggi bila ada polisitemia sekunder sebagai akibat dari insufisiensi paru. Leukositosis dengan laju endap darah yang tinggi sering dijumpai bila ada infeksi sekunder.

  1. Gambaran Radiologis

Foto torak PA dan lateral : tampak infiltrat pada paru bagian basal dengan daerah radiolusen yang multipel menyerupai sarang lebah (honey comb appeareance.

Bronkografi : merupakan sarana diagnosis pasti untuk bronkiektasis, karena dengan bahan kontras yang dimasukan kedalam saluran nafas akan tampak kelainan ektsis.

  1. Bronkoskopi

Tidak dapat digunakan untuk melihat ektasis, akan tetapi dapat untuk mengetahui adanya tumor atau benda asing, sumber batuk darah, sputum dan perdarahan.

  1. Pemeriksaan faal paru

Untuk melihat akibatnya yaitu kelainan resrtiksi dan atau obstruksi. Kelainan faal paru yang terjadi tergantung luas dan beratnya penyakit. Fungsi ventilasi dapat masih normal bila kelainannya ringan. Pada penyakit yang lanjut dan difus, kapasitas vital (KV) dan kecepatan aliran udara ekspirasi satu detik pertama (VEP 1) terdapat tendensi penurunan, karena terjadinya obstruksi aliran udara pernafasan. Pada bronkiektasis dapat terjadi perubahan gas darah berupa penurunan PaO2 derajat ringan sampai berat, tergantung  pada beratnya kelainan. Penurunan PaO2 ini menunjukan adanya abnormalitas regional (maupun difuse) distribusi ventilasi yang berpengaruh pada perfusi paru.

Tinggkat beratnya  penyakit

Bronkiektasis ringan

Ciri klinis : batuk-batuk dan sputum warna hijau hanya terjadi sesudah demam (ada infeksi sekunder), produksi sputum terjadi dengan adanya perubahan posisi tubuh, biasanya ada hemoptisis sangat ringan, pasien tampak sehat dan fungsi paru normal. Foto dada normal.

Bronkiektasis sedang

Ciri klinis : batuk-batuk produktif terjadi tiap saat, sputum timbul tiap saat (umumnya warna hijau dan jarang mukoid, serta bau mulut busuk), sering- sering ada hemoptisis, pasien umumnya masih tampak sehat dan fungsi paru normal, jarang terjadi jari tabuh. Pada pemeriksaan fisis paru sering ditemukan ronki basah kasar pada paru yang terkena, gambaran foto dada boleh dikatakan masih normal.

Bronkiektasis berat

Ciri klinis : batuk-batuk produktif dengan sputum banyak berwarna kotor dan berbau . sering ditemukan adanya neumonia dengan hemoptisis dan nyeri pleura. Sering ditemukan jari tabuh. Bila ada obstruksi saluran nafas akan dapat ditemukan adanya dispneu, sianosis, atau tanda kegagalan paru. Umumnya keadaan pasien kurang baik. Sering ditemukan infeksi piogenik pada kulit, infeksi mata, dan sebagainya. Pasien mudah timbul pneumonia, septikemia, abses metastasis, kadang-kadang amiloidoisis. Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan ronki basah kasar pada daerah yang terkena. Pada gmbaran foto dada ditemukan kelainan penambahan bronchovascular markingdan multipel cyst containing fluid level (honey comb appeareance).

  1. Diagnosis

Diagnosis pasti ditegakan dengan pemeriksaan broskografi/ CT scan yang tampak pelebaran bronkus.

Bronkogram tidak selalu dapat dikerjakan pada setiap pasien bronkiektasis , karena terikat akan adanya indikasi, kontra indikasi, komplikasi dan syarat-syarat kapan melakukanya.

CT scan paru menjadi alternatif penunjang yang paling sesuai untuk evalusai bronkiektasis, karena sifatnya non invasif dan hasilnya akurat bila menggunakan potongan yang lebih tipis dan mempunyai sepesifitas dan sensitivitas lebih dari 95%.

  1. Diagnosis Banding
  2. Bronkitis kronis

Bronkitis kronis menunjukan gambaran bronkus yang normal pada pemeriksaan bronkografi.

  1. Tuberkulosis paru

Pada tuberkulosis paru tampak gambaran radiologis yang berbeda dengan gambaran bronkiektasis, terlebih lagi bila dijumpai basil tuberkulosis dalam sputum. Akan tetapi perlu diingat bahwa bronkiektasis dapat merupakan penyulit dari tuberkulosis paru.

  1. Abses Paru

Pada radiologis tampak abses yang dapat dibedakan dari gambaran bronkiektatais.

  1. Tumor Paru

Tampak gambaran masa padat pada paru, bila proses keganasan memberi gambaran infiltrat, maka perlu dibedakan dengan proses pneumonia.

  1. Penatalaksanaan
    1. Konservatif

–          mengobati penyakit dasar

–          drainase postural

Tindakan ini merupakan cara paling efektif untuk mengurangi gejala, tetapi harus dikerjakan terus menerus. Pasien diletakan dengan posisi tubuh sedemikian rupa hingga dapat dicapai drainase sputum secara maksimal. Tiap kali melakukan drainase postural dikerjakan selama 10-20 menit dan tiap hari dikerjakan 2 sampai 4 kali. Prinsip drainase postural ini adalah usaha mengeluarkan sputum  (sekret bronkus) dengan bantuan gaya gravitasi. Apabila dengan mengatur posisi tubuh pasien seperti disebut di atas belum diperoleh drainase sputum secara maksimal dapat dibantu dengan tindakan memberikan ketukan dengan jari pada pasien (tabbottage)

–          Penggunaan antibiotika yang tepat dan segera

–          Mencairkan sputum yang kental, hal ini dapat dilakukan dengan misalnya : inhalasi uap air panas atau dingin (menurut keadaan), menggunakan obat-obat mukolitik dan perbaikan hidrasi tubuh (banyak minum air putih)

  1. Suportif

–          Memperbaiki keadaan umum

–          Psikoterapi agar tidak menarik diri dari lingkungan

  1. Pembedahan

Paling ideal dilakukan pada bagian yang sakit

Indikasi : Batuk darah berulang, proses ektasis yang local/ soliter

Kontra indikasi: pada bronkiektasis yang difuse, faal paru yang jelek

  1. Penyulit

–          batuk darah massif

–          Kor pulmonal kronikum dekompensata

–          Infeksi sekunder

  1. Prognosis

Prognosis tergantung dari penyebab, lokasi, luas, proses, drajat ganguan faal paru dan adanya penyulit. Penggunaan antibiotika yang tepat dan tindakan bedah sangat berpengaruh terhadap prognosis. Tanpa pengobatan penderita ektasis jarang dapat hidup melewati umur 10-15 tahun. Kebanyakan penderita meninggal pada umur kurang dari 40 tahun karena adanya penyulit.

.

DAFTAR PUSTAKA

 

Allsagaf, Hood, Abdul Mukti. 2002. Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru. Surabaya : Airrlangga University Press

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://www.lung.ca/diseases-maladies/a-z/bronchiectasis-bronchiectasie/index_e.php

http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/brn/brn_treatments.html

Rahmatullah, Pasiyan. 2006. Bronkiektasis dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Balai Penerbit FK UI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
J S M S S R K
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 108,982 Tampilan
%d blogger menyukai ini: