ASTROSITOMA

Tinggalkan komentar

September 8, 2012 oleh dokterbujang

TINJAUAN PUSTAKA

 

I.       Definisi

Merupakan neoplasma otak yang berasal dari salah satu bentuk sel glia, yaitu sel berbentuk bintang yang disebut astrosit. Astrositoma merupakan glioma yang paling sering dijumpai pada bagian utama otak, yaitu serebrum.

II.    Epidemiologi

Astrositoma terjadi pada semua usia, tersering antara 40-60 tahun. Pria:wanita = 2:1. Lokasi primer sering ditemukan pada regio frontal, temporal, parietal dan ganglia basalis, paling jarang di lobus oksipital. Klasifikasi mikroskopik dibagi empat tingkat (Kernohan I-IV), namun ketepatannya terbatas. Penjelasan paling praktis untuk klinisi adalah membagi tumor kedalam ‘maligna’ dan ‘derajat rendah’.

III. Klasifikasi

Klasifikasi astrositoma secara umum dan yang paling banyak dipakai, menurut World Health Organization dibagi dalam beberapa tipe dan grade:

  1. Astrositoma Pilositik (Grade I)

Tumbuh lambat dan jarang menyebar ke jaringan disekitarnya. Tumor ini biasa terjadi pada anak-anak dan dewasa muda. Mereka dapat disembuhkan secara tuntas dan memuaskan. Namun demikian, apabila mereka menyerang pada tempat yang sukar dijangkau, masih dapat mengancam hidup.

  1. Astrositoma Difusa (Grade II)

Tumbuh lambat, namun menyebar ke jaringan sekitarnya. Beberapa dapat berlanjut ke tahap berikutnya. Kebanyakan terjadi pada dewasa muda.

  1. Astrositoma Anaplastik (Grade III)

Sering disebut sebagai astrositoma maligna. Tumbuh dengan cepat dan menyebar ke jaringan sekitarnya. Sel-sel tumornya terlihat berbeda dibanding dengan sel-sel yang normal. Rata-rata pasien yang menderita tumor jenis ini berumur 41 tahun.

  1. Gliobastoma multiforme (Grade IV)

Tumbuh dan menyebar secara agresif. Sel-selnya sangat berbeda dari yang normal. Menyerang pada orang dewasa berumur antara 45 sampai 70 tahun.

Tumor ini merupakan salah satu tumor otak primer dengan prognosis yang sangat buruk.

Grade I dan II juga dikenal sebagai Astrositoma berdifrensiasi baik (Well differentiated astrocytomas). Sedangkan Grade III dan IV sering disebut Astrositoma maligna.

  1. IV.  Gambaran Klinis

Gejala-gejala yang umumnya terjadi pada tumor astrositoma merupakan akibat peningkatan tekanan intra kranium. Gejala-gejala tersebut antara lain sakit kepala, muntah, dan perubahan status mental. Gejala lainnya, seperti mengantuk, lethargy, penurunan konsentrasi, perubahan kepribadian, kelainan konduksi dan kemampuan mental yang melemah terlihat pada awal-awal timbulnya gejala. Biasanya terdapat pada satu dari empat penderita tumor otak maligna.

Pada anak, peningkatan intra kranium yang disebabkan oleh tumor astrositoma bisa memperbesar ukuran kepala.  Perubahan-perubahan (seperti pembengkakkan) dapat diobservasi di bagian belakang retina mata, dimana terdapat bintik buta, yang disebabkan oleh terjepitnya Nn.Optici. Biasanya tidak terdapat perubahan pada temperatur, tekanan darah, nadi atau frekuensi pernafasan kecuali sesaat sebelum meninggal dunia. Kejang-kejang juga dapat ditemukan pada astrositoma diferensiasi baik.

Gejala yang terjadi dapat juga berupa tanda dan gejala kerusakan otak fokal; disfasia,  hemiparesis, perubahan personal.

Walaupun spektrum dari gejala-gejala sama pada semua jenis tumor glia namun frekuensi dari gejala-gejala yang berbeda bervariasi tergantung dari apakah lesinya grade rendah atau tinggi. Sebagai contoh, glioma grade rendah dimulai dengan kejang-kejang terdapat pada sekitar 80% dari pasien dan kebanyakan dari mereka tidak memiliki kelainan pada pemeriksaan neurologis; sekitar 25% pasien-pasien dengan glioblastoma mengalami kejang-kejang tetapi yang paling banyak memiliki gejala-gejala sensoris atau motoris terlateralisasi yang jelas terlihat.

Gejala-gejala tumor astrositoma juga memiliki variasi yang tergantung pada bagian mana dari otak yang terkena. Terkadang tipe kejang dapat membantu untuk menentukkan lokasi di mana tumor tersebut berada.

Dengan pengecualian kejang, gejala biasanya timbul bertahap, berjalan beberapa minggu, bulan atau tahun, kecepatan tergantung derajat keganasan. Perburukan mendadak menunjukkan perdarahan pada daerah nekrotik.

  1. V.    Pemeriksaan
    1. Foto polos tengkorak

Kurang begitu bermanfaat, pergeseran pineal yang berkalsifikasi atau erosi dorsum sella menunjukkan adanya massa intrakranial.

  1. CT scan

Bervariasi, umumnya lesi maligna dan derajat rendah menunjukkan karakter berbeda. Pada astrositoma maligna/glioblastoma multiforme dijumpai daerah berdensitas campuran, penguatan  ireguler dengan kontras. Tak ada daerah pembatas antara tumor dan otak menunjukkan infiltrasi. Daerah sentralnya berdensitas rendah menunjukkan area nekrotik atau ruang kistik; masing-masing tidak terdapatenhancement. Efek massa berupa kompresi ventrikuler serta pergeseran garis tengah yang jelas. Daerah sekitarnya berdensitas rendah menunjukkan edema atau tumor infiltratif. Pada astrositoma derajat rendah tampak daerah densitas rendah, biasanya tidak diperkuat kontras, menunjukkan lesi infiltratif derajat rendah; deteksi  sering sulit  pada tahap dini. Terkadang terjadi kalsifikasi. Beberapa tumor derajat rendah mensekresikan cairan yang bisa mengelilingi lesi: ‘astrositoma sistika jinak’.

  1. MRI

MRI Scan dengan penampakan tumor pada potongan axial dan sagital ialah metode pilihan pada kasus-kasus curiga astrositoma. MRI memberikan garis batas tumor lebih akurat dibandingkan dengan CT Scan, dan  MRI Scan yang teratur dapat dilakukan sebagai follow up pasca penatalaksanaan. Astrositoma biasanya terlihat sebagai daerah dengan peningkatan densitas dan menunjukkan enhancement setelah dimasukkan bahan kontras. Pergeseran struktur-struktur garis tengah dan penipisan dinding ventrikel lateralis di sisi tumor dapat terlihat.

Gambar 2.1. Posisi Axial (kiri) dan Posisi Coronal (kanan) MRI scan menunjukkan astrositoma regio mesial lobus mid-temporal.

VI. Penatalaksanaan

Tumor pilositik hemisfer harus dieksisi sebisa mungkin, karena hampir seratus persen pasien dapat bertahan hidup sepuluh tahun setelah dioperasi. Garis tengah astrositoma harus dieksisi sebisa mungkin, tetapi tumor-tumor yang anaplasia cenderung untuk menyebar dalam neuraxis, dan direkomendasikan penatalaksanaan lanjutan berupa radiasi lokal sampai radiasi craniospinal ditambah dengan kemoterapi.

Semua model utama pengobatan kanker, yaitu operasi, radiasi, dan kemoterapi, dipakai untuk menatalaksana astrositoma maligna. Pendekatan ini identik baik untuk astrositoma anaplastik maupun glioblastoma, namun memiliki prognosis yang berbeda. Dengan penatalaksanaan yang identik, median lamanya bertahan untuk pasien dengan astrositoma anaplastik ialah 3 tahun, dengan beberapa pasien yang masih bisa bertahan sampai satu dekade atau lebih. Namun demikian, angka bertahan hidup secara keseluruhan untuk pasien glioblastoma ialah hanya sekitar 1 tahun, dan jarang sekali yang dapat bertahan sampai 3 tahun.

Terdapat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap angka bertahan hidup pasien. Dewasa muda secara signifikan dapat bertahan hidup lebih lama daripada pasien yang tua, walaupun memakai metode terapi yang identik. Dapat dikatakan, pasien berumur 65 tahun memiliki prognosis yang buruk. Keadaan umum juga menunjukkan suatu pengaruh yang kuat. Pasien dengan keadaan umum baik dapat bertahan hidup lebih lama daripada yang kurang baik. Pasien dengan riwayat gejala-gejala yang banyak, seperti kejang-kejang, dapat bertahan hidup lebih lama daripada yang gejalanya minimal.

Operasi, radioterapi, kemoterapi dapat membantu mengontrol penyakit dalam satu waktu, tapi tumor timbul kembali pada kebanyakan pasien, terutama pada tempat yang sebelumnya.

Penatalaksanaan yang dilakukan pada astrositoma maligna:

  1. 1.   Operasi: Reseksi agresif dengan pengangkatan seluruh massa yang mengganggu ialah tujuan utama dari operasi. Pada kebanyakan pasien, eksisi total secara umum meningkatkan fungsi neurologis, mengurangi oedema didaerah sekitar dan memperpanjang ketahanan hidup. Walau ketika tumor melibatkan area yang penting di otak, evaluasi pre-operasi dengan fungsional MRI (fMRI) dan pemetaan intra-operatif terkadang dapat memudahkan ahli bedah saraf yang terampil untuk mengeksisi lesi-lesi ini secara keseluruhan. Eksisi total juga memudahkan ahli Patologi Anatomi untuk menegakkan diagnosis yang akurat. Batas reseksi harus diukur dengan post-operatif MRI, dilakukan 72 jam post-operatif, karena pengangkatan tumor intra-operatif terkadang tidak akurat. Tumor yang bersifat multifokal, bilateral, atau yang melibatkan struktur yang peka seperti thalamus, tidak boleh diangkat pada operasi. Pada pasien-pasien tersebut dilakukan biopsy stereotaktis pada jaringan tumor.
  2. 2.   Radioterapi: Paling aktif pada tumor maligna yang  tumbuh  cepat, derajat III dan IV. Radioterapi  memperpanjang usia, namun tidak menyembuhkan.
  3. 3.   Kemoterapi:  Dari penelitian yang dilakukan para ahli, 20% pasien yang memakai kemoterapi nitrosourea terlihat memiliki angka ketahanan hidup yang lebih panjang. Namun banyak dokter sekarang ini memakai temozolomide. Temozolomide ialah obat yang bersifat alkylating agent, diberikan per oral. Secara empiris sangat baik pengaruhnya untuk perawatan pasien yang menderita glioma ganas yang kambuh kembali dan telah menjadi standard pengobatan untuk kasus-kasus seperti itu.
  4. 4.   Medikamentosa

–    Terapi Steroid untuk pasien dengan peninggian TIK, dosis pembebanan 12 mg. i.v. diikuti 4 mg q.i.d. mengurangi edema peritumoral dan menyebabkan perbaikan  gejala secara cepat. Setelah beberapa  hari, dosis diturunkan bertahap untuk mencegah toksisitas.

  1. VII.    Aspek Rehabilitasi Pasien dengan Tumor Otak

Program rehabilitasi harus dimulai sedini mungkin dan berorientasi pada pemulihan fungsi seoptimal mungkin atau memanfaatkan fungsi yang masih ada untuk kesejahteraan penderita melalui pendekatan tim yang terpadu. Tidak hanya melihat kecacatan fisik penderita tetapi keseluruhan baik psikologik, sosial, vokasional, pendidikan dan rekreasi penderita.

  1. 1.      Fisioterapi

Fisioterapis bertanggung jawab untuk evaluasi, pengembangan dan supervisi program latihan terapi. Program latihan yang dapat diberikan antara lain: latihan gerak sendi bisa pasif, aktif dibantu atau aktif sesuai kekuatan otot penderita untuk mencegah kontraktur, latihan untuk meningkatkan kekuatan otot dan mencegah atropi otot-otot, latihan fasilitasi / redukasi otot, latihan mobilisasi. Positioning dan turning (merubah posisi tiap 2 jam) untuk cegah ulkus dekubitus, ROM exercise aktif dan pasif

Program latihan tersebut akan berhasil bila:

  1. Penjelasan yang baik dan demonstrasi yang mudah dimengerti dan dilakukan.
  2. Supervisi latihan dan koreksi bila salah.
  3. Pertimbangan toleransi nyeri dan kelelahan.
  4. Penjadwalan dan diselingi penilaian ulang.
  5. Pasien memerlukan latihan tersendiri dan perhatian khusus kasus demi kasus.
  6. Adakalanya perlu latihan berkelompok dalam melakukan gerakan secara bersama-sama.
  7. Melanjutkan program latihan di rumah dan memberi pengertian kepada keluarga.

Komunikasi fisioterapis dengan anggota tim lain terutama mengenai kemampuan fisik atau kognitif dan keterbatasan dalam melakukan latihan.

  1. 2.      Okupasi terapi

Ditujukan untuk memulihkan penderita hingga mandiri dan hidup normal, serta produktif. Evaluasi penampilan penderita baik ADL sederhana maupun rumit berpakaian, berdandan, kordinasi motorik halus, persepsi visuospasial dan assesmen lingkungan.

Penatalaksanaan yang direncanakan berupa:

  1. Evaluasi dan pemulihan kemampuan penderita dalam hubungannya dengan ADL dan pekerjaan.
  2. Memanfaatkan fungsi yang tersisa dengan alat bantu.
  3. Memperbaiki pengertian akan cacat yang disandang dan fungsi psiko sosial sebagai bagian dari kemanusiaan.
  4. 3.      Terapi bicara

Gangguan komunikasi dapat terjadi akibat tumor otak. Dalam hal ini ditangani olehspeech therapist yang terlatih mengatasi gangguan berbahasa, persepsi, evaluasi dan pembentukan bahasa. Apabila suara belum ada maka modalitas berkomunikasi harus dilatih seperti memakai tulisan, lambang jari atau cara lain yang bisa dimengerti.

Speech therapist juga melatih penderita yang mengalami gangguan menelan.

  1. 4.      Ortotik ­ Prostetik

Pilihan alat ortosa atau protesa yang cocok harus mempertimbangkan anatomi, fisiologi dan aspek patologi juga harus melihat faktor-faktor keindahan gerak, terhindar dari nyeri, pekerjaan, sikap psikologik dan sosio ekonomi penderita.

Harus diusahakan sedemikian rupa bila memakai ortosa dan protesa, penderita mendekati kehidupan biasa dan produktif.

Alat-alat yang dapat digunakan antara lain : arm sling, hand sling, walker, wheel chair, knee back slap, short leg brace, cock-up, ankle foot orthotic (AFO), knee ankle foot orthotic (KAFO).

  1. 5.      Psikologi

Penderita tumor otak sebelum dan sesudah pengobatan mungkin akan mengalami suatu situasi baru terutama bila ada defisit fungsi. Dalam hal ini psikolog sebagai anggota tim rehabilitasi berperan untuk menilai dan mengevaluasi fungsi perasaan dan kognitif penderita; termasuk di dalamnya adalah:

  1. Efek psikologik dan intelek yang terganggu akibat tumor otak.
  2. Fungsi sebelum menderita dan sekarang.
  3. Akibat kronik tumor otak.
  4. Kemampuan penderita menerima keadaannya.
  5. Persepsi penderita tentang keadaannya dan pandangan orang lain terhadap dia.
  6. Peranan lingkungan.

Sikap emosi dan mental sangat menentukan keberhasilan proses rehabilitasi. Rata-rata 50% pada orang dewasa dan lebih tinggi lagi pada anak-anak.

  1. 6.      Pekerja Sosial Medik

Diagnosis sosial termasuk kemampuan penderita menerima defisit fungsinya dan penerimaan penderita terhadap program rehabilitasi.

Pelayanan pekerja sosial medik yang diberikan kepada penderita dan keluarga adalah : Penerangan tentang cacatnya, kehidupan sex, bantuan keuangan dan badan sosial, situasi tempat tinggal yang hams sesuai pada keadaan penderita, halangan bangunan yang mesti diubah, kamar mandi yang cocok dan sebagainya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Astrocytomahttp://www.wikipedia.com

Chandra, 1994. Neurologi Klinik. Stroke, Surabaya: Bagian Ilmu Penyakit Syaraf  Fakultas Kedokteran Unair/ RSUD Dr Soetomo.  Hal:29-34.

Djamil, M. 2009. Tumor Intra Kranial. http://www.neurosurgery.com

Mahar Mardjono, Priguna Sidharta. 2004  Neurologi klinis dasar. Jakarta: Dian Rakyat. Hal: 392-402.

Simatupang, P.T. 1992. Rehabilitasi Pasien dengan Tumor Otak. Cermin Dunia Kedokteran No.77

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
J S M S S R K
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 108,982 Tampilan
%d blogger menyukai ini: