ANESTESI

Tinggalkan komentar

September 8, 2012 oleh dokterbujang

Definisi

Anestesi merupakan suatu peristiwa hilangnya sensasi, perasaan nyeri bahkan hilangnya kesadaran sehingga memungkinkan dilakukan pembedahan. Tujuan anestesi yaitu :

  • Hipnotik
  • Analgesi
  • Relaksasi otot

Penyebab kematian pada tindakan anestesi berupa aspirasi, tidak adekuatnya pernafasan sehingga pasien mengalami hipoksia, tidak berfungsi dengan baik mesin anestesi, reaksi alergi.

Klasifikasi anestesi, yaitu :

  1. Anestesi Umum
  2. Anestesi Lokal
  3. Anestesi Regional

ANESTESI UMUM

Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri / sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible). Komponen trias anestesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesi, dan relaksasi otot. Cara pemberian anestesi umum :

  1. Parenteral (intramuscular/intravena). Digunakan untuk tindakan yang singkat atau induksi anestesi. Umumnya diberikan thiopental, namun pada kasus tertentu dapat digunakan ketamin, diazepam, dll. Untuk tindakan yang lama anestesi parenteral dikombinasikan dengan cara lain.
  2. Parekteral. Dapat dipakai pada anak untuk induksi anestesi atau tindakan singkat.
  3. Anestesi inhalasi, yaitu anestesi dengan menggunakan gas atau cairan anestesi yang mudah menguap (volaitile agent) sebagai zat anestetik melalui udara pernafasan. Zat anestetik yang digunakan berupa campuran gas (dengan oksigen) dan konsentrasi zat anestetik tersebut tergantung dari tekanan parsialnya. Tekanan parsial dalam jaringan otak akan menentukan kekuatan daya anestesi, zat anestetika disebut kuat bila dengan tekanan parsial yang rendah sudah dapat memberi anestesi yang adekuat.

BERBAGAI TEKNIK ANESTESI UMUM

  1. INHALASI dengan Respirasi Spontan
    1. Sungkup wajah
    2. Intubasi endotrakeal
    3. Laryngeal mask airway (LMA)
  2. INHALASI dengan Respirasi kendali
    1. Intubasi endotrakeal
    2. Laryngeal mask airway
  3. ANESTESI INTRAVENA TOTAL (TIVA)
    1. Tanpa intubasi endotrakeal
    2. Dengan intubasi endotrakeal

ANESTESI INTRAVENA

Anestetik intravena selain untuk induksi juga dapat digunakan untuk rumatan anestesia,   tambahan   pada   analgesia   regional   atau   untuk   membantu   prosedur diagnostic misalnya thiopental, ketamin, dan propofol. Untuk anestesia intravena total biasanya menggunakan propofol.

a)      Tiopental

Thiopental (pentotal,tiopenton) dikemas dalam bentuk tepung atau bubuk berwarna kuning, berbau belerang, biasanya dalam bentuk ampul 500 mg atau 1000 mg. Sebelum digunakan dilarutkan dalam aquades steril sampai kepekatan 2,5% (1 ml = 25 mg). Thiopental hanya boleh digunakan untuk intravena dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikkan perlahan-lahan dihabiskan dalam 30-60 detik.

Larutan ini sangat alkalis dengan pH 10-11, sehingga suntikan keluar vena akan menimbulkan nyeri hebat apalagi masuk ke arteri akan menyebabkan vasokontriksi dan nekrosis jaringan sekitar. Kalau hal ini terjadi dianjurkan memberikan suntikan infiltrasi lidokain. Bergantung dosis dan kecepatan suntikan thiopental akan menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hypnosis, anestesia atau depresi nafas.

Thiopental menurunkan aliran darah otak, tekanan likuor, tekanan intracranial dan diduga dapat melindungi otak  akibat kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesi. Kontra indikasinya adalah status asmatikus, syok, anemia, disfungsi hepar, dispnue berat, asma bronchial, versi ekstraksi, miastenia gravis. Keuntungannya adalah induksi mudah dan cepat, tidak ada delirium, masa pemulihan cepat, tidak ada iritasi mukosa jalan nafas, sedangkan kerugiannya adalah dapat menyebabkan depresi pernafasan, depresi kardiovaskular, cenderung menyebabkan spasme taring, relaksasi otot perut dan bukan analgetik.

Thiopental di dalam darah 70% diikat oleh albumin, sisanya 30% dalam bentuk bebas, sehingga pada pasien dengan albumin rendah dosis harus dikurangi. Thiopental dapat diberikan secara kontinyu pada kasus tertentu di unit perawatan intensif, tetapi jarang digunakan untuk anestesia intavena total.

b)      Propofol

Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi berisi 10% minyak kedelai, 2,25% gliserol dan lesitin telur. Propofol menghambat transmisi neuron yang dihantarkan oleh GABA. Propofol (diprivan, recofol) dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat isotonic dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg). Suntikan intravena sering menyebabkan nyeri, sehingga beberapa detik sebelumnya dapat diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena.

Dosis bolus untuk induksi 2-2,5 mg/kg, dosis rumatan untu anestesia intravena total 4-12 mg/kg/jam dan dosis sedasi untuk perawatan intesif 0,2 mg/kg. Pengenceran propofol hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Pada manula dosis harus dikurangi, pada anak < 3 tahun dan pada wanita hamil tidak dianjurkan. Sebaiknya menyuntikkan obat anestetik ini pada vena besar karena dapat menimbulkan nyeri pada pemberian intravena.

c)      Ketamin

Ketamin adalah suatu rapid acting non barbiturate general anesthesia. Indikasi pemakain ketamin adalah prosedur dengan pengendalian jalan nafas yang sulit, prosedur diagnosis, tindakan ortopedi, pasien resiko tinggi, tindakan operasi sibuk dan asma. Ketamin (ketalar) kurang digemari untuk induksi anestesia, karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi, hipersalivasi, nyeri kepala, pasca anestesia dapat menimbulkan mual-muntah, pandangan kabur dan mimpi buruk.

Kalau harus diberikan sebaiknya diberikan midazolam (dormikum) atau diazepam (vallum) terlebih dahulu dengan dosis 0,05-0,08 mg/kg intravena.

Dosis bolus untuk induksi intravena ialah  1-2 mg/kg dan untuk intramuscular 3-10 mg. Ketamin dikemas dalam cairan bening kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1 ml = 50 mg) dan 10% (1 ml = 100 mg).

d)     Opioid

Opioid (morfin, petidin, fentanil, sufentanil) untuk induksi diberikan dosis tinggi. Opioid tidak menggangu kardiovaskular, sehingga banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan jantung. Untuk anestesia opioid digunakan fentanil dosis induksi 20-50 mg/kg dilanjutkan dengan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.

PENATALAKSANAAN

Persiapan pre bedah dilakukan oleh pasien sebelumnya, sehingga diperlukan kunjungan pra anestesi yang bertujuan untuk mengurangi kesakitan operasi, meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Penilaian yang dilakukan sebelumnya meliputi identitas penderita, anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, status fisik. Anamesis dilakukan untuk mengetahui riwayat pasien seperti, hipertensi, jantung, asma, alergi tidaknya terhadap makanan tertentu atau sesaat sebelum minum obat, serta riwayat operasi.

Hal ini dikarenakan terdapat obat-obatan tertentu yang dapat menimbulkan efek samping sampai 3 bulan, seperti halotan. Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan gigidan pemeriksaan fisk sistemik tentang keadaan umum seperti inspeksi, perkusi, palpasi, auskultasi semua system organ. Pemeriksaan laboratorium harus sesuai indikasi. Pemeriksaan yang biasa dilakukan seperti darah rutin dan urinalisa. Pada pasien diatas 50 tahun dilakukan pemeriksaan EKG dan foto thorax. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium dapat dinilai kebugaran pasien atau menggunakan penialain dari ASA.

Klasifikasi ASA :

•    ASA I           asien sehat organic, fisiologik, psikiatri, biokimia.

•    ASA II          asien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

•    ASA III         asien dengan penyakit sistemik berat, sehingga aktivitas rutin  terbatas.

•    ASA IV         asien dengan penyakit sistemik berat, sehingga tak dapat

melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat.

•    ASA V          asien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa pembedahan

hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.

  1. A.        Premedikasi

Pemberian obat premedikasi bertujuan :

ü  Menimbulkan rasa nyaman pada pasien (menghilangkan kekhawatiran, memberikan ketenangan, membuat amnesia, memberikan analgesik).

ü  Memudahkan/memperlancar induksi, rumatan, dan sadar dari anestesi.

ü  Mengurangi jumlah obat-obatan anestesi.

ü  Mengurangi timbulnya hipersalivasi, bradikardi, mual, dan muntah pasca anestesi.

ü  Menciptakan amnesia.

ü  Mengurangi stress fisiologis (takikardi, nafas cepat).

ü  Mengurangi keasaman lambung/isi cairan lambung.

ü  Mengurangi reflex yang membahayakan.

  1. B.        Induksi Anestesi

Tindakan anestesi dengan cara intravena yaitu dengan induksi bolus dengan kecepatan 30 – 60 detik. Selama induksi intravena perlu dimonitoring tanda-tanda vital sign, pemberian oksigen. Obat yang biasa sering dipakai adalah propofol dengan dosis 2-3 mg/kgBB iv dan ketamin dengan dosis 1 – 4,5 mg/kgBB iv.

  1. C.        Post Anestesi

Stress pasca operasi sering terjadi gangguan nafas, kardiovaskular, mual-muntah, menggigil, kadang-kadang perdarahan. Pasca operasi berada di ruang recovery. Di unit ini pasien dinilai tingkat pulih sadarnya.

  • Observasi dan monitor tanda vital (nadi, tensi, respirasi)
  • Bila pasien gelisah harus diteliti apakah karena kesakitan (tekanan darah dan  nadi  cepat) atau  karena hipoksia (tekanan darah turun dan nadi   cepat) misal karena perdarahan (hipovolemia).
  • Bila kesakitan beri analgetik NSAID/Opioid.
  • Jika hipoksia cari sebabnya dan atasi penyebabnya (obstruksi jalan nafas) karena secret/lender atau lidah jatuh ke hipofharing).
  • Oksigen via nasal kanul 3-4 liter, selama pasien belum sadar betul tetep diberikan.
  • Pasien dapat dikirim kembali ke bangsal/ruangan setelah sadar, reflek jalan nafas sudah aktif, tekanan darah dan nadi dalam batas-batas normal.
  •  Pasien bisa diberi makan dan minum jika flatus sudah ada, itu bukti peristaltik usus sudah normal.

BAB III

PENUTUP

 

 

KESIMPULAN

Ny. W umur 26 tahun datang ke RSUD Kanjuruhan dengan keluhan luka bakar karena tersiram air panas pada lengan dan tangan kiri, perut, punggung, bokong, serta paha kanan dan kiri. Keluarga pasien mengatakan sebelumnya pasien pingsan kemudian menabrak panci yang berisi air panas. Kulit pada tubuhnya yang terkena siraman air panas mengelupas hingga berwarna kemerahan dan ada juga yang berbentuk gelembung-gelembung seperti  berisi cairan. Sebelum dibawa ke rumah sakit pasien sempat di guyur dengan air.

Pemeriksaan fisik didapatkan Tensi 100/70 mmHg, Nadi 80 x/menit, pernafasan 18 x/menit, suhu 36,5o C. Pemeriksaan laboratorium didapatkan leikositosis, pemeriksaan status lokalis didapatkan total luas luka bakar 45% dan kedalaman luka derajat II A., Hasil lab. Tgl 30 November 2011: Hb   12,5 gr/dL, Status Anestesi: KU : Cukup, Airway  : clear, Breathing : spontan, GCS: E4V5M6, Status Fisik : ASA II, Diagnosis : Combustio grade II A dengan luas  45%, Penatalaksaan : Debridement. Teknik anestesi : TIVA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

David S. Perdanakusuma. 2006. Penanganan Luka bakar. Airlangga University Press.

Katzung, G.B. (1998). Farmakologi Dasar Dan Klinik. Edisi Keenam. Alih Bahasa Staf  Dosen FK Universitas Sriwijaya. Jakarta: EGC

Latief, Said. A. Suryadi, Kartini. A. Dachlan, M. Ruswan. (2001). Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UI: Jakarta.Pharos  Indonesia  (2009).

M Sjaifudin Noer. 2006. Penanganan Luka Bakar. Airlangga University Press.

Mayo clinic staff. Burns First Aids. http: // www.nlm.nih.gov/medlineplus. Diakses  pada tanggal 07 Desember 2011

R Sjamsuhidajat. Wim De Jong. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Penerbit Buku Kedokteran. EGC.

Rue, L.W. & Cioffi, W.G. 1991. Resuscitation of thermally injured patients. Critical Care Nursing Clinics of North America, 3(2),185

Wachtel & Fortune 1983, Fluid resuscitation for burn shock. In T.L. Wachtel et al (Eds.), Current topic in burn care (p. 44). Rockville,MD: Aspen Publisher, Inc.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
J S M S S R K
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 108,982 Tampilan
%d blogger menyukai ini: