HEPATOMA

Tinggalkan komentar

September 7, 2012 oleh dokterbujang

TINJAUAN PUSTAKA

Hepatoma

Hepatoma atau karsinoma hepatoseluler sering terjadi pada pasien sirosis hati, yang disebabkan oleh virus hepatitis B atau C. Karsinoma ini lebih banyak pada pria dan terutama ras Asia. Gejala awal hepatoma sering terlepas dari pemeriksaan, karena tertutup oleh gejala sirosis hati yang sering mendasari karsinoma ini. Hilang selera makan dan penurunan berat badan adalah gejala paling sering terjadi pada hepatoma, tetapi pasien sirosis hati juga mempunyai gejala yang sama. Hepatoma pada umumnya ditegakkan diagnosisnya pada stadium lanjut.

Untuk deteksi dan menegakkan diagnosis hepatoma pada pasien sirosis, hepatitis B kronik, hepatitis C kronik, diperlukan pemeriksaan penunjang seperti CT Scan, USG. Pemeriksaan ini sangat membantu karena dapat menemukan tumor yang masih berukuran kecil dan gejalanya tertutup oleh sirosis hati atau hepatitis kronik. Pada pasien ini dilakukan USG dan CT Scan. Pemeriksaan penunjang lain yang sangat membantu adalah tumor marker Alfa FetoProtein. Pada orang dewasa sehat, serum AFP rendah dan akan meningkat pada hepatoma, juga kehamilan. Pada pasien hepatitis B atau hepatitis C kronik, apalagi bila sudah terjadi sirosis hati, sebaiknya dilakukan pemeriksaan rutin USG, CT Scan dan tumor marker tiap 6 bulan untuk diagnosis dini hepatoma agar segera dilakukan pengobatan untuk memperpanjang usia

Penentuan stadium hepatoma paling sering berdasarkan Okuda staging system. Pasien dievaluasi berdasar empat hal yaitu asites, albumin, bilirubin, dan ukuran tumor. Penentuan ini berguna untuk prognosis. Stadium I mempunyai harapan hidup 3-8 bulan, stadium II 0-7 bulan, stadium III 0-2 bulan.

Pengobatan hepatoma masih belum memuaskan, banyak kasus didasari oleh sirosis hati. Pasien sirosis hati mempunyai toleransi yang buruk pada operasi segmentektomi pada hepatoma. Selain operasi masih ada banyak cara misalnya transplantasi hati, kemoterapi, emboli intra arteri, injeksi tumor dengan etanol agar terjadi nekrosis tumor, tetapi hasil tindakan tersebut masih belum memuaskan dan angka harapan hidup 5 tahun masih sangat rendah

Pencegahan hepatoma adalah dengan mencegah penularan virus hepatitis B atau C. Vaksinasi merupakan pilihan yang bijaksana tetapi saat ini baru tersedia vaksinasi untuk hepatitis virus B.

 

Anemia

 

Menurut definisi anemia adalah pengurangan sel darah merah, kuantitas dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis yang diuraikan oleh anamnese dan pemerikasaan fisik yang teliti serta didukung dengan pemeriksaan laboratorium. (7)

Pada anemia karena semua sistem organ dapat terlibat, maka dapat menimbulkan manifestasi klinis yang luas. Manifestasi ini tergantung pada (1) kecepatan timbulnya anemia, (2) umur individu, (3) mekanisme kompensasi, (4) tingkat aktivitasnya, (5) keadaan penyakit yang mendasari, (6) parahnya anemia tersebut.

Anemia dapat diklasifikasikan menurut (1) morfologi sel darah merah dan indeks-indeksnya, (2) etiologi.

Klasifikasi anemia menurut morfologi

Mikro dan makro menunjukkan ukuran sel darah merah sedangkan kromik menunjukkan warnanya. Sudah dikenal tiga klasifikasi besar :

Anemia normositik normokromik

Dimana ukuran dan bentuk sel-sel darah merah normal serta mengandung hemoglobin dalam jumlah yang normal (MCV dan MCHC normal atau normal rendah) tetapi individu menderita anemia. Penyebabnya adalah kehilangan darah yang skut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan endokrin, gangguan ginjal, kegagalan sumsum, dan penyakit infiltratif metastatik pada sumsum tulang.

Anemia makrositik normokromik

Makrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih besar dari normal tetapi normokrom karena konsentrasi hemoglobin dalam jumlah yang normal (MCV meningkat, MCHC normal). Hal ini diakibatkan oleh gangguan atu terhentinya sintesa asam nukleat DNA seperti yang ditemukan pada defisiensi B12 dan/atau asam folat. Ini juga dapat terjadi pada kemoterapi kanker, sebab agen-agen yang digunakan mengganggu metabolisme sel.

Anemia mikrositik hipokromik

Mikrositik berarti ukuran sel-sel darah merah lebih kecil dari normal, hipormokrom karena konsentrasi hemoglobin dalam jumlah kurang dari normal (MCV kurang, MCHC kurang). Hal ini menggambarkan insufisiensi sintesis hem (besi), seperti pada anemia defisiensi besi, keadaan sideroblastik dan kehilangan darah kronik, atau gangguan sintesa globin, seperti pada thalasemia.

Klasifikasi menurut etiologi

Penyebab utama yang dipikirkan adalah (1) meningkatnya kehilangan sel darah merah dan (2) penurunan atau gangguan pembentukan sel.

Meningkatnya kehilangan sel darah merah

Dapat disebabkan oleh perdarahan atau oleh penghancuran sel. Perdarahan dapat disebabkan oleh trauma atau tukak, atau akibat perdarahan kronik. Penghancuran sel darah merah dalam sirkulasi dikenal dengan hemolisis, terjadi bila gangguan pada sel darah merah itu sendiri yang memperpendek hidupnya atau karena perubahan lingkungan yang menyebabkan penghancuran sel darah merah. Keadaan dimana sel darah merah itu terganggu adalah (1) hemoglobinopati, yaitu hemoglobin abnormal yang diturunkan, misalnya anemia sel sabit, (2) gangguan sintesa globin, seperti pada thalasemia, (3) gangguan membran sel darah merah, misalnya sferositosis herediter, (4) defisiensi enzim, misalnya defisiensi G6PD.

Hemolisis dapat juga disebabkan oleh gangguan lingkungan sel darah merah, yang sering kali memerlukan respon imun. Malaria dapat menimbulkan anemia hemoliti berat ketika sel darah merah diinfestasi oleh Plasmodium, pada keadaan ini terjadi kerusakan permukaan sel darah merah, dimana permukaan sel darah merah menjadi tidak teratur. Sel darah merah yang terkena akan segera dikeluarkan dari peredaran darah oleh limpa. Hiperslenisme dapat juga menyebabkan hemolisis akibat penjeratan dan penghancuran sel darah merah.

Penurunan atau gangguan pembentukan sel (diseritropoeisis)

Setiap keadaan yang mempengaruhi fungsi sumsum tulang dimasukkan dalam kategori ini. Yang termasuk dalam kategori ini adalah (1) keganasan yang tersebar seperti kanker payudara, leukimia, dan multiple mieloma, obat dan zat kimia toksik, dan penyinaran dengan radiasi. (2) penyakit-penyakit menahun yang melibatkan ginjal dan hati, penyakit-penyakit infeksi dan defisiensi endokrin. Kekurangan vitamin-vitamin penting seperti B12, asam folat, vitamin C dan besi, dapat mengakibatkan pembentukan sel darah merah tidak efektif sehingga menimbulkan anemia. Untuk menegakkan diagnosis anemia harus digabungkan pertimbangan morfologis dan etiologis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

September 2012
J S M S S R K
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya

Klik tertinggi

Blog Stats

  • 108,982 Tampilan
%d blogger menyukai ini: